Siapa yang lebih kasihan? Warganya atau kotanya?

Jakarta, di usianya yang memasuki setengah abad terus berbenah terus membangun. Luas wilayah yang tidak berubah sejak beberapa dekade terakhir tidak membuat Jakarta lambat berkembang. Sebagai ibukota negara, Jakarta banyak dituntut untuk mampu mengakomodasi banyak kebutuhan dan kepentingan. Pada saat yang sama, Jakarta juga harus siap sedia menjadi tulang punggu perkembangan perekonomian Indonesia.

Ternyata, dua hal major itu belum cukup membuat kita – para pemerkosa Jakarta merasa puas diri. Jakarta juga menjadi ladang terbaik untuk urusan hiburan dan gaya hidup. Jakarta juga menjadi pasar dan melting point banyak sekali kepentingan domestik dan internasional. Bagaimana reaksi Jakarta atas semua beban yang ditanggungnya selama ini?

  • Jakarta kian eksklusif. Hanya orang-orang kaya saja yang mampu tinggal di dalamnya.

Kalau upah minimum regional di Jakarta saja masih lebih rendah dibandingkan para pekerja pabrik di Karawang, bagaimana bisa warganya mendambakan hidup nyaman di rumah sendiri di ibukota yang fana ini? Iya, tinggal di Jakarta saja sudah cukup mahal dan mencekik, apalagi memaksa diri untuk membeli rumah sendiri? Jika bukan karena uang warisan orangtua, atau mendadak jadi Youtuber dan mega-influencer, tinggalkanlah angan-angan untuk memiliki rumah di Jakarta.

Sederhananya, mari kita sama-sama mengambil ilustrasi. Anggap saja masih ada rumah dan tanah di Jakarta yang dijual seharga Rp350 juta. Berbekal semua tabungan dan lobi sana-sini, ada pihak Bank yang baik hati merilis kredit dengan cicilan Rp8 jutaan untuk rumah tersebut. Dari situ, kita hubungkan dengan pendapatan para first jobber atau kaum milenial yhang baru mulai bekerja. Rerata pendapatan bulanan mereka adalah Rp7 jutaan. Itu adalah pendapatan bersih, sebelum dipotong untuk konsumsi harian, transportasi, dan lain-lain.

Bagi mereka yang mampu hidup di Jakarta dengan super-hemat-ekstra-irit, mungkin masih bisa menyisihkan Rp4 juta sebagai tabungan bulanan. Namun tetap saja, itu belum cukup untuk membayar cicilan rumah dengan harga terendah sekalipun.

  • 30 Tahun nanti, akan lebih banyak manusia dibanding luas lahan di Jakarta

Jumlah penduduk Jakarta tahun 2019 mencapai angka 10.6 juta orang. Naik sekitar 1.16% dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini konsisten dari tahun ke tahun. Artinya, setiap tahun, Jakarta dijejali oleh lebih dari 100 ribuan orang baru. Sementara luasan Jakarta masih sama, hanya 661.5 km persegi. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, Jakarta bisa jadi akan tenggelam karena penduduknya sendiri.

Jakarta bisa jadi terlampau padat untuk dihuni dengan manusiawi. Sebuah literatur memprediksi, di tahun 2050 nanti, Jakarta akan menjadi kota untuk lebih dari 13.8 juta orang. Sebuah angka yang sangat fantastis untuk kota sekecil Jakarta. Ini berarti luas lahan di Jakarta sudah tidak mampu lagi menampung orang-orang di dalamnya. Ini sama dengan ada lebih dari 21.000 orang setiap satu kilometer persegi, atau 21 orang untuk setiap satu meter persegi.

Baca artikel Lainnya

Menakar untung-rugi punya apartemen

Oke, sebelum Anda membaca penjelasan lebih lanjut. Izinkan kami untuk membuka tulisan ini dengan ...

Siapa yang lebih kasihan? Warganya atau kotanya?

Jakarta, di usianya yang memasuki setengah abad terus berbenah terus membangun. Luas wilayah yang ...

Ini Alasan Mengapa Jakarta Tidak Layak Huni

Tinggal dan besar di kota metropolitan adalah sebuah dilema. Di satu sisi, kota metrolitan seperti ...

Siap memiliki apartemen Urbantown?

Daftar