Ini Alasan Mengapa Jakarta Tidak Layak Huni

Tinggal dan besar di kota metropolitan adalah sebuah dilema. Di satu sisi, kota metrolitan seperti Jakarta menawarkan segala kemudahan dan kepraktisan hidup. Di sisi yang lainnya, Jakarta yang juga kerap disandingkan dengan megapolitan di berbagai belahan dunia dipaksa menelan fakta yang menyakitkan. Deretan fakta yang bisa dibilang membuat Jakarta tidak lagi layak huni.

  • Jarak tempuh perjalanan yang makin tidak masuk akal

Bagaimana caranya para ahli menentukan kota-kota paling layak huni di dunia? Salah satunya adalah dengan menghitung rerata jarak dan waktu tempuh para penduduknya. Bagaimana dengan Jakarta? Indonesia yang secara implisit direpresentasikan oleh Jakarta, dilansir Fortune.com nyatanya adalah kota dengan kepadatan jalan raya kedua di dunia. Sementara menurut TomTom City, menasbihkan Jakarta sebagai kota paling macet di dunia. Sebuah prestasi, bukan?

Sebagai bahan hiburan di kala macet, ini beberapa fakta tentang kemacetan Jakarta yang layak dirapalkan istighfar setiap hari:

  • Jalan tol atau jalan biasa? Sama saja!

Apa Bahasa Inggris dari jalan tol? Highway? Freeway? Toll road? Dalam kamus kita, jalan tol diidentikkan dengan jalan bebas hambatan. Sebuah sistem ruas jalan yang di dalamnya tidak ada lampu lalu lintas, tidak ada perempatan, pertigaan, atau putar arah. Sebuah konsep jalan raya yan memungkinkan penggunanya melaju mulus.

Konsep hanyalah konsep. Penggunaan istilah jalan tol di Jakarta sepertinya sudah layak untuk dikaji ulang. Coba lihat Jakarta Inner Ring Road dan Jakarta Outer Ring Road setiap pagi dan petang. Coba juga tanyakan bagaimana macetnya tol yang menghubungkan Jakarta dengan Tangerang, Bogor, dan Bekasi setiap harinya.

TomTom City secara rutin menganalisa tingkat kemacetan di berbagai kota di dunia. Jakarta salah satunya, dari data yang dirangkum sejak 2016, tingkat kepadatan jalan tol dengan jalan biasa ternyata lebih tinggi di jalan tol! Dibandingkan dengan situasi normal dan lancar, bepergian melalui jalan tol 68% lebih macet. Sementara jalan biasa hanya 54%.

  • Jam pulang kantor lebih mengerikan

Hei, warga Jakarta! Mana yang lebih mengerikan, jam pulang kantor atau jam berangkat kantor? Dua-duanya adalah jam-jam ‘neraka’ bagi para pengguna jalan dan commuter. Masih dari TomTom City, setiap jam berangkat kantor jalanan di Jakarta menjadi 63% lebih macet dibanding jam-jam lainnya. Iya, artinya warga Jakarta harus rela mengorbankan 60% lebih lama waktu di jalan atau berangkat setengah kali lebih pagi dari waktu normal.

Bagaimana dengan jam pulang kantor? Faktanya lebih mengerikan lagi! Jalanan akan 95% lebih macet saat jam-jam tersebut. Artinya, kamu akan tiba di rumah atau di tempat tujuan hampir dua kali lebih lama dibanding jam-jam normal. Artinya lagi, produktivitas dan quality time kamu dua kali lebih singkat akibat kemacetan Jakarta yang kian edan.

  • Ladang amarah di setiap pintu tol

Ada lagi cerita, maaf bukan cerita mungkin, fakta menarik tentang jalan tol di sekitar Jakarta dan kemacetannya. Pintu tol yang pada jam-jam sibuk kerap kali lebih nampak seperti area parkir dibanding akses untuk masuk-keluar jalan bebas hambatan. Momen yang paling termasyhur untuk menyulut emosi para pengguna jalan. Bagaimanapun inovasi pengelola jalan tol untuk mempercepat waktu transaksi di pintu-pintu tol, derasnya jumlah mobil yang hendak menggunakan jalan tol tidak pernah seimbang dengan inovasi tersebut.

  • Lampu merah yang selalu bikin gerah

Walau masih banyak sekali fenomena jalanan dan kemcetan Jakarta yang bisa ditulis di sini, kami rasa ini adlaah hal terakhir yang kami rasa bisa relate dengan apa yang kita semua rasakan setiap hari. Ya, lampu merah atau lampu lalu lintas. Entah yang berada di pertigaan maupun perempatan jalan, lampu merah saat jam-jam sibuk (atau bahkan saat jam-jam normal) seringkali bikin kita gerah.

Teori ‘jalan depan kosong’ yang dianut oleh banyak pengendara motor misalnya. Adalah hal yang paling sering memicu gridlock atau menambah parah kemacetan. Jumlah motor yang menguasai jalan raya rasanya lebih banyak daripada masalah yang dihadapi oleh Nikita Mirzani.

Belum lagi saat kita harus memutar jalan. Akses putaran jalan pun acap kali menjadi sumber kemacetan yang tidak logis di pagi dan sore hari. Perilaku para pengguna jalan yang mementingkan-diri-sendiri-tanpa-merasa-bersalah-karena-telah-melanggar-cara-mengemudi-yang-baik memperparah kondisi jalanan dengan akses putar arah. Ditambah para ‘Pak Ogah’ yang alih-alih membantu mengurai kemacetan, malah menguntungkan siapa saja yang lebih dulu membuka kaca mobilnya.

Baca artikel Lainnya

Menakar untung-rugi punya apartemen

Oke, sebelum Anda membaca penjelasan lebih lanjut. Izinkan kami untuk membuka tulisan ini dengan ...

Siapa yang lebih kasihan? Warganya atau kotanya?

Jakarta, di usianya yang memasuki setengah abad terus berbenah terus membangun. Luas wilayah yang ...

Ini Alasan Mengapa Jakarta Tidak Layak Huni

Tinggal dan besar di kota metropolitan adalah sebuah dilema. Di satu sisi, kota metrolitan seperti ...

Siap memiliki apartemen Urbantown?

Daftar